Quote

Agama VS Sains…

Agama VS Sains

Agama itu soal “percaya / tidak percaya” atau “yakin / tidak yakin” sehingga validitas suatu klaim agama tidak membutuhkan bukti kongkrit dan rasional, misal di agama kita disuruh untuk percaya kalo matahari itu gelap, ya kita musti yakin / percaya, meskipun aktualnya jelas beda. disini situasi dogmatis menjadi tolok ukurnya.]

Sedangkan sains untuk mengklaim sesuatu membutuhkan observasi tentunta / validitas atas apa yang diklaim. jadi jika sains bisa mengklaim sesuatu yang luar biasa tentunya sains memnutuhkan bukti kongkrit yang luar biasa tidak hanya sekedar omongan / buku. misalkan sains mengklaim kalo bumi bulat, ya jelas sains akan memberikan bukti atas klaimnya tersebut.

 

jadi intinya, sebuah agama / kepercayaan tidak bisa di versuskan dengan sains, karena tujuan akhirnya jelaslah beda.🙂

 

5 thoughts on “Agama VS Sains…

  1. pencari kebenaran says:

    Kebenaran dan realitas

    Realitas adalah sesuatu atau obyek yang mustahil manusia bisa menangkap dan juga memahaminya secara keseluruhan sebab manusia adalah makhluk yang memiliki keserterbatasan dalam segala hal,dan kesadaran akan keserbaterbatasan hingga kesadaran akan mustahilnya manusia bisa menangkap realitas secara keseluruhan itu harus melekat dalam fikiran siapapun yang bergumul dengan prolem seputar ilmu dan kebenaran,apakah itu agamawan,filosof maupun para saintis-ilmuwan.mengapa kita harus selalu mengingatkan akan keserbaterbatasan diri manusia (?) sebab selalu ada fihak yang seolah telah bisa menangkap atau mengetahui keseluruhan dan dengan mudahnya mendiskreditkan pernyataan yang berasal dari pandangan fihak yang lain.kita ambil contoh : filosof – saintis (yang berpandangan atheistic –materialistik) begitu mudah mendiskreditkan pernyataan yang berasal dari kitab suci sebagai ‘irrasional’ padahal kita bisa balik bertanya apakah filosof-ilmuwan adalah fihak yang telah mengetahui realitas secara keseluruhan sehingga berdasar pengetahuannya yang bersifat menyeluruh itu ia bisa menghakimi fihak lain yang tidak sama pandangannya dengan mereka (?)
    Para agamawan adalah fihak yang karena menyadari keterbatasan dirinya maka mereka bersandar pada kacamata sudut pandang Tuhan yang dideskripsikan melalui kitab suci,jadi bila para agamawan mendeskripsikan hal hal yang gaib yang dianggap ‘irrasional’ oleh fihak lain itu bukan pernyataan mereka tapi pernyataan Tuhan yang diadopsi oleh para agamawan.jadi keliru kalau para agamawan adalah fihak yang telah membuat atau melahirkan pandangan yang irrasional sebab mereka hanyalah fihak yang menerima pandangan Tuhan
    Jadi untuk memasuki rimba problematika kebenaran maka pemahaman tentang realitas harus dikuasai sepenuhnya tiada lain agar tidak mudah mendeskreditkan fihak lain yang tidak satu pandangan.jangan sampai begitu mudah mendeskriditkan fihak lain sebagai fihak yang salah seolah telah bisa menguasai atau mengetahui realitas secara keseluruhan padahal hal itu adalah suatu yang mustahil bagi manusia.
    Kita bisa membuat analogi : seorang yang hanya hafal sebagian ilmu tentang mesin mobil maka ia tak boleh mendeskreditkan orang lain yang membuat pernyataan tentang mesin mobil kecuali tentu bila ia telah menguasai sepenuhnya ilmu tentang mesin mobil.
    Begitu pula manusia yang adalah mustahil bisa menangkap realitas secara keseluruhan tidak boleh mendefinisikan apapun yang berasal dari agama sebagai ‘salah’ atau ‘irrasional’ sebab manusia tidak memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang realitas sehingga bagaimana kalau dunia gaib yang dinyatakan agama itu adalah benar benar ada ? dengan kata lain baik filsafat maupun sains tidak layak menghakimi agama dan hal itu memiliki argumentasi yang kuat secara ilmiah sebab tak ada seorang pun baik filsuf maupun saintis yang telah mengetahui realitas secara keseluruhan.
    Para filsuf – saintis yang medeskriditkan agama adalah fihak yang tidak berkaca kepada keserba terbatasan manusia bahwa betapapaun manusia berusaha untuk mengetahui dan menggapai keseluruhan tapi karena peralaatan yang terbatas yang ada dalam dirinya maka suatu yang mustahil bila ia bisa menangkap keseluruhan itu.
    Siapapun yang hendak menjelajah rimba problem seputar ilmu dan kebenaran harus memiliki kesadaran awal yang bersifat mendasar bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan otomatis harus berpijak pada kesadaran bahwa realitas adalah suatu yang mustahil ditangkap secara keseluruhan oleh manusia.jangan sampai menjelajah rimba problem kebenaran dengan berpijak pada (khayal) seolah olah telah menguasai keseluruhan atau berpijak pada pemikiran spekulatif belaka tapi sudah berani untuk mendeskreditkan agama sebagai suatu yang salah atau irrasional
    Filsuf – saintis adalah fihak yang selalu ingin dan selalu berusaha untuk mengetahui dan memahami segala suatu secara menyeluruh tapi keinginan dan usaha itu harus selalu dibarengi oleh kesadaran bahawa manusia mustahil untuk mengetahui keseluruhan,hingga bila ada fihak lain yang bersandar pada Tuhan (untuk mengetahui dan memahami keseluruhan itu) maka itu adalah suatu yang real dan rasional,dan itu lebih baik ketimbang mengklaim bisa atau seolah telah menguasai keseluruhan sehingga begitu mudah menghakimi fihak lain yang memiliki pandangan yang berbeda sebagai ‘salah’.
    Bisa dikatakan sikap seolah telah mengetahui keseluruhan itu adalah suatu yang tidak realistis – tidak rasional dan pasti tidak ilmiah (tidak sesuai dengan kaidah ilmiah),apalagi bila kemudian mendeskriditkan fihak lain yang memiliki dimensi dan pandangan yang berbeda dengan para filosof dan saintis seperti para agamawan.
    Kebenaran adalah suatu yang berpijak pada realitas bukan pada khayal atau pemikiran negative (pemikiran spekulatif ) sehingga bila realitas itu jumlahnya 1 milyar gigabyte maka kebenaran pun harus menjelajah diwilayah seputar yang 1 milyar gigabyte itu tak boleh lebih atau kurang,begitu pula bila relalitas itu terdiri dari yang gaib dan yang konkrit maka kebenaran pun akan memiliki dua sisi yang sama pula yaitu yang konkrit dan yang gaib. Sehingga salah bila ada fihak yang hanya menerima kebenaran sebatas itu bisa dibuktikan secara empirik (terlihat oleh mata telanjang) sebab teramat banyak sisi kebenaran yang tak bisa diperlihatkan melalui bukti empirik secara langsung.
    Dan salah pula bila ada yang mengkonsep ilmu sebagai seagala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera sedang realitas adalah terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit yang bisa dibuktikan secara empirik dan yang gaib yang tak bisa dibuktikan secara empirik.sebab ilmu itu adalah pelayan atau jalan bagi kebenaran,bila kebenaran harus difahami secara universal baik sisi konkrit maupun sisi gaibnya maka ilmu pun harus dikonsep untuk bisa memahami keseluruhan baik yang konkrit maupun yang gaib.
    Dan suatu yang keliru atau bertolak belakang bila kita ingin mengetahui keseluruhan atau bahkan mengklaim keseluruhan tapi mengkonsep kebenaran sebatas rasio sehingga yang tidak rasional dianggap bukan kebenaran sebab realitas itu ada yang bisa ditangkap oleh rasio ada yang tak bisa ditangkap oleh rasio,atau mengkonsep ilmu sebatas dunia indera sehingga yang diluar dunia indera tak bisa masuk wilayah ilmu dan kebenaran sebab teramat banyak sisi kebenaran yang tidak bisa dibuktikan oleh bukti empiric yang bersifat langsung.
    Kita harus selalu melekatkan definisi kebenaran dengan realitas tiada lain agar seluruh bahasan tentang itu tidak masuk ke dunia khayal atau dunia pemikiran negative (spekulatif),tapi kita harus memahami pengertian yang benar tentang apa itu ‘realitas’ dan apa itu manusia dihadapan realitas tsb. dengan cara demikian filsuf saintis tidak akan a priori secara negative terhadap agama sebab mereka menyadari bahwa sebagaian besar realitas justru adalah yang tidak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia.

  2. pencari kebenaran says:

    Kebenaran dan realitas (2)

    Realitas (dalam pengertian yang utuh – bersifat menyeluruh) adalah suatu yang memiliki dua sisi : dimensi yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) dan yang konkrit (bisa tertangkap mata secara langsung).samadengan realitas manusia terdiri atas yang abstrak (jiwanya) dan yang konkrit (raganya),atau sama dengan perangkat komputer yang terdiri atas hard ware dan soft ware.inilah pemahaman yang benar yang bersifat mendasar tentang ‘realitas.siapa yang belum memahami secara mendasar definisi pengertian ‘realitas’ yang sebenarnya jangan mudah bersikap a priori terhadap agama atau jangan gegabah dalam membuat pernyataan negative terhadap agama.
    Sebab itu keliru besar bila ada yang beranggapan bahwa ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang nampak mata dan bisa dibuktikan secara empirik’ sebab itu sama dengan tidak bersikap realistik sebab faktanya realitas itu selalu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit.tetapi kacamata sudut pandang materialist ‘bermata satu’ (‘dajjal’ menurut bahasa kitab suci) selalu berangkat dari prinsip bahwa ‘yang benar adalah segala suatu yang bersandar kepada bukti empirik’ (bukti yang tertangkap mata secara langsung).sehingga ketika kitab suci mendeskripsikan realitas yang abstrak (yang diluar kemampuan manusia untuk menangkapnya secara langsung) maka kacamata sudut pandang materialist langsung memvonis nya sebagai ‘salah’ atau’irrasional’.padahal mengapa tidak berfikir bahwa bukan agama yang salah atau irrasional tapi pengalaman dunia indera tidak bisa menjangkaunya dan akal manusia yang lemah yang lebih banyak bersandar kepada tangkapan dunia inderawinya ketimbang bersandar pada yang abstrak.

  3. pencari kebenaran says:

    Kebenaran dan realitas (3)

    Akal manusia selalu berdiri ditengah tengah antara realitas yang abstrak dan yang konkrit itu dimana agama mengkonsepsikan agar akal manusia memiliki ‘dua mata’ bisa melihat ke dunia abstrak dan juga bisa melihat ke yang konkrit secara berimbang.kacamata sudut pandang materialist adalah kacamata yang selalu menarik akal ke yang konkrit sehingga akal manusia ‘buta’ kepada yang abstrak,dan menjadikan akal menjadi begitu bergantung pada dunia panca indera.inilah landasan dasar mengapa agama sering di stigma kan sebagai ‘irrasional’ oleh orang yang logika akalnya bergantung sepenuhnya pada realitas yang tertangkap mata.padahal dalam dunia yang abstrak Tuhan memiliki konsep konsep yang akal fikiran manusia sebenarnya bisa memahaminya sebagai ‘logis’ (masuk akal),contoh : konsep sorga-neraka bisa difahami akal sebagai suatu yang rasional (bisa dibaca-difahami oleh cara berfikir akal yang sistematik) sebab hal itu bisa dihubungkan secara kausalistik dengan keberadaan / adanya kebaikan dan kejahatan didunia.coba bila kita balik : andai sijahat dan sibaik hidupnya sama sama berakhir dikuburan maka enak benar si jahat dan malang nian si baik atau malang nian orang yang teraniaya oleh sijahat.sungguh tidak rasional realitas seperti itu.sebab bila Tuhan menata alam semesta secara tertib dan teratur mengapa Ia tidak mengatur peri kehidupan secara utuh-komplit sehingga ada konsep pembalasan bagi sibaik dan sijahat.
    Tapi rasio orang yang bersudut pandang mata satu (‘buta’ terhadap realitas gaib) tidak bisa membaca konsep sorga-neraka yang rasional itu malah memvonis konsep itu sebagai ‘irrasional’ hanya karena dianggap bersandar pada sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara empirik (bukti yang tertangkap mata secara langsung).
    Jadi pemahaman orang berkacamata sudut pandang materialist terhadap definisi pengertian ‘realitas’ dan terhadap definisi pengertian ‘rasional’ sebenarnya bila kita analisis salah besar.sebab dalam konsep agama yang ’rasional’ adalah yang logika akal manusia bisa memahaminya seagai konsep yang konstruktif-tertata-teratur – utuh.jadi dalam agama logika itu harus seperti matematika atau berfikir matematis yang murni bersandar pada cara berfikir sistematis.
    Sedang dalam kacamata sudut pandang materialist pengertian ‘rasional’ adalah cara berfikir logika akal yang dibatasi oleh batasan pengalaman dunia indera sehingga orang bersudut pandang materialist sebenarnya bukan orang yang murni bisa berfikir sistematis (tertib-tertata ke segala arah/ke segala dimensi realitas).

  4. ujang bandung says:

    Problem hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi dunia abstrak sedang hati menangkap essensinya.
    Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

  5. HutMan says:

    Baca Buku Karen Amstrong berjudul “The History of God” dan buku Michael Shermer berjudul “The Believing Brain” supaya pandangan anda lebih luas. Tentunya akan mempengaruhi pendapat anda nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s